January 2012
M T W T F S S
« May    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Pages

Search

Program AKADEMI FILM DENPASAR

May 5th, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

Program Pendidikan
Akademi Film Denpasar ini memiliki misi untuk dapat menghasilkan sineas muda dalam tataran Ahli Madya yang mempunyai sikap dan kemampuan profesional serta wawasan seni film yang dapat diterapkan dalam industri perfilman. Program pendidikan yang ditawarkan adalah Diploma 3 dengan jurusan film, yang didalamnya akan mengajarkan semua bidang film yang ada. Bidang – bidang film tersebut adalah:
- Penyutradaraan : Mempelajari teknik dan gaya visualisasi film
- Penulisan Skenario : Mempelajari penulisan cerita untuk film
- Sinematografi : Mendalami ketrampilan peralatan kamera film
- Tata Suara : Mendalami keahlian peralatan rekaman suara
- Tata Artistik : Mempelajari penciptaan dekor & unsur visual
- Editing : Mendalami penyuntingan film cerita
- Produksi Film : Menguasai manajemen pembuatan film
- Animasi : Mempelajari cara bertutur dengan animasi

——————————————————————————————–

` Aktivitas belajar mengajar di dalam Akademi Film ini terbagi atas dua bagian, yaitu: Aktivitas kuliah teori dan aktivitas kuliah praktek. Aktivitas kuliah teori ini meliputi pemberian ilmu dan teori – teori dalam perfilman serta pelajaran pendukung lainnya. Aktivitas kuliah praktek meliputi pembelajaran langsung produksi dan pasca produksi film.

Daftar Mata Kuliah Semester I
Sumber: Kurikulum AKINDO Jurusan Broadcasting Film 2008/2009
No Mata Kuliah SKS Keterangan
1 Pendidikan Pancasila 2
2 Pendidikan Agama 2
3 Teori Komunikasi 3
4 Fotografi Dasar 3
5 Medio dan Sistem Studio 3
6 Sosiologi Komunikasi 3
7 Psikologi Komunikasi 3
8 Pengantar Seni Film 3

Daftar Mata Kuliah Semester II

Sumber: Kurikulum AKINDO Jurusan Broadcasting Film 2008/2009
No Mata Kuliah SKS Keterangan
1 Teknologi Film dan Televisi 3
2 Seni Peran I 3
3 Sejarah Film 3
4 Sinematografi 3
5 Aplikasi Komputer 3 Praktikum
6 Teori Film 3
7 Videografi I 3 Praktikum
8 Bahasa Inggris I 3

Daftar Mata Kuliah Semester III

Sumber: Kurikulum AKINDO Jurusan Broadcasting Film 2008/2009
No Mata Kuliah SKS Keterangan
1 Tata Suara 3 Praktikum
2 Bahasa Inggris II 3
3 Videografi II 3 Praktikum
4 Editing I 3 Praktikum
5 Penyutradaraan Film I 3
6 Seni Peran II 3
7 Dramaturgi 2

Daftar Mata Kuliah Semester IV

Sumber: Kurikulum AKINDO Jurusan Broadcasting Film 2008/2009
No Mata Kuliah SKS Keterangan
1 Metode Penelitian Komunikasi 3
2 Tata Artistik Film 3
3 Penulisan Naskah Film I 3
4 Ilustrasi Musik Film 3 Praktikum
5 Produksi Film Iklan 3 Praktikum
6 Pilihan I
7 Pilihan II
8 Pilihan III

Daftar Mata Kuliah Pilihan Semester IV

Sumber: Kurikulum AKINDO Jurusan Broadcasting Film 2008/2009
No Mata Kuliah SKS Keterangan
1 Animasi & Produksi Multimedia 3 Praktikum
2 Apresiasi Film 2
3 Editing II 3 Praktikum
4 Produksi Program Dubbing 3 Praktikum

Daftar Mata Kuliah Semester V

Sumber: Kurikulum AKINDO Jurusan Broadcasting Film 2008/2009
No Mata Kuliah SKS Keterangan
1 Produksi Film Cerita 3 Praktikum
2 Marketing Film 3
3 Animasi 3 Praktikum
4 Pendidikan Kewarganegaraan 2
5 Produksi Film Dokumenter 3 Praktikum
6 Tata Rias dan Busana 3 Praktikum
7 Penyutradaraan Film II 3 Praktikum

Daftar Mata Kuliah Semester VI

Sumber: Kurikulum AKINDO Jurusan Broadcasting Film 2008/2009
No Mata Kuliah SKS Keterangan
1 Praktek Kerja Lapangan / TA 3

———————————————————————————————-

Pelaku
Pelaku di dalam Akademi Film Denpasar, yaitu:
1. Mahasiswa
Jumlah mahasiswa dalam satu angkatan sebanyak 60 siswa. Program yang ditawarkan akademi film ini adalah Diploma 3, yang berarti proses belajar berlangsung selama tiga tahun, sehingga total keseluruhan mahasiswa dalam satu tahun adalah 180 siswa.
2. Tenaga Pengajar
Jenis pengajar dalam akademi film ini terbagi dua, yaitu:
- Dosen
- Asisten dosen
Perbandingan antara jumlah dosen dan mahasiswa adalah 1:10, sehingga jumlah total dosen adalah 18 orang. Sedangkan perbandingan antara asisten dosen dan mahasiswa adalah 1:5, namun diasumsikan bahwa satu asisten dapat mengambil tiga kelas, sehingga jumlah totalnya adalah 12 orang asisten dosen.

3. Tenaga
Tenaga Non-Edukatif ini merupakan tenaga dalam bidang administrasi akademi, yaitu:
- Direktur: berjumlah satu orang.
- Sekretaris: berjumlah dua orang.
- Kepala jurusan film: dirangkap oleh dosen, berjumlah satu orang.
- Pembantu direktur: dirangkap oleh dosen, terdiri dari tiga bidang, yaitu:
- Bidang akademik: berjumlah satu orang
- Bidang administrasi umum: berjumlah satu orang
- Bidang kemahasiswaan: berjumlah satu orang.
- Kepala perpustakaan: berjumlah satu orang.
- Staff perpustakaan: terdiri dari dua bagian, yaitu:
- Administrasi: berjumlah dua orang.
- Perbaikan dan pendataan buku berjumlah satu orang.
- Kepala lab pra produksi: dirangkap oleh dosen, berjumlah satu orang.
- Kepala studio produksi: dirangkap oleh dosen, berjumlah satu orang.
- Kepala lab pasca produksi: dirangkap oleh dosen, berjumlah satu orang.
- Kepala sub bidang administrasi akademik dan kemahasiswaan: dirangkap oleh dosen tetap, berjumlah satu orang.
- Kepala sub bagian umum: dirangkap oleh dosen, berjumlah satu orang.
- Staff umum: berjumlah dua belas orang.
- Staff sekretariat akademik: berjumlah empat orang.
- Staff rumah tangga da pemeliharaan: berjumlah sepuluh orang.

Sehingga jumlah total untuk tenaga non-edukatif adalah 42 orang, dengan tenaga yang berasal dari dosen adalah 9 orang.

———————————————————————————————-

Total jumlah pelaku dalam Akademi Film Denpasar adalah:

No Akademi Jumlah (orang)
1. Mahasiswa 180
2. Dosen 18
3. Asisten dosen 12
4. Staff non-edukatif 33
Jumlah total 243 orang

Posted in Uncategorized | No Comments »

Dekonstruksi Budaya Patriarki

May 4th, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

Dekonstruksi merupakan gaya arsitektur yang masuk dalam kategori postmodern, dan tidak mengikat diri ke dalam suatu dimensi waktu.
Beberapa prinsip penting dalam arsitektur dekonstruksi:
1. Tidak adanya kecenderungan untuk pengulangan ciri atau gaya dari satu karya arsitektur ke karya arsitektur yang lainnya.

2. Mengandung nilai filosofi didalam nya, sesuai issue yang diangkat.

3. Penonjolan penampilan pada geometri 3 dimensi, tidak lagi 2 dimensi.

4. Warna adalah aksen yang lebih ditonjolkan, dan tekstur tidak terlalu penting.

Dekonstruksi budaya patriarki:
1. Bentukan melengkung dan dikelilingi oleh bentukan kotak-kotak pada fasad bangunan, serta bentukan melengkungnya lebih tinggi daripada bentuk kotak-kotak, memberikan makna bahwa laki-laki harus senantiasa melindungi dan menjunjung tinggi kedudukan seorang perempuan.

2. Bentuk selubung bangunan yang meliuk-liuk dengan bentuk mirip orang bersujud, memberikan makna bahwa segala masalah yang dihadapi manusia merupakan pemberian tuhan, sehingga harus diterima dengan ikhlas dan dihadapi dengan kuat.

3. Komposisi selubung bangunan tersebut merupakan gabungan dari tiga selubung yang meliuk-liuk, memberikan pencitraan tentang film Under The Tree yang menceritakan tentang tiga perempuan dengan kompleksias masalahnya masing-masing.

Posted in Uncategorized | No Comments »

Analisa Film yang menjadi Dasar Konsep Metafora Arsitektur

April 27th, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

d) Under The Tree (2009)
Photobucket
Film ini disutradarai oleh Garin Nugroho dan dibintangi oleh Marcella Zalianty, Nadia Saphira, dan Ayu Laksmi. Berkisah tentang problematika hidup yang dialami oleh tiga wanita yang sama-sama berlokasi di pulau Bali. Wanita yang pertama, yakni Maharani (Marcella Zalianty) adalah wanita yang mencari ibu kandungnya, dengan berbekal informasi bahwa ibunya adalah seorang penari yang tinggal di Bali, kemudian ia melakukan perjalanan ke Bali dan tinggal di sebuah perkampungan penari. Namun, di sana Maharani malah menjadi tersangka dalam kasus perdagangan bayi. Kemudian, kisah wanita selanjutnya, yakni Nian (Nadia Shapira) yang berlatar belakang keluarga kaya dan jatuh cinta kepada seorang pria paruh baya. Namun, pria itu sebenarnya sudah dianggap meninggal dan telah melalui prosesi Ngaben. Sementara itu, kisah wanita ketiga, yakni Dewi (Ayu Laksmi) harus menerima kenyataan bahwa bayi yang ada dalam kandungnya menderita penyakit kelainan otak dan divonis tidak mampu bertahan hidup, dan dokter pun menyarankan untuk mengaborsi kandungannya. Film ini menyajikan rangkuman kebudayaan masyarakat Bali, seperti pentas drama tari Calonarang yang bisa menyebabkan kematian para pemainnya hingga upacara Ngaben tersaji dengan apik. Film ini menyajikan bagaimana kondisi wanita dalam kehidupan sosial masyarakat, khususnya dalam budaya Bali.

Judul filmnya sendiri “Under The Tree” terkait dengan nilai filosofi tersendiri dalam budaya Bali, yaitu falsafah hidup masyarakat tentang Rwa Bhineda, yaitu mengenai dua hal yang berbeda, antara dunia jiwa dan raga, sekala dan niskala, serta keindahan dan kesakralan. Judul ini memberikan makna bahwa pohon dan sekitarnya adalah dunia atau kehidupan itu sendiri, yakni dunia jiwa dan raga, tempat beristirahat, tempat bermain, dunia yang ingin dicari namun kadang tak lagi dijaga keberadaannya. Bali dianalogikan sebagai pohon, dimana tiga wanita ini berteduh dari segala masalah hidup.

Hal-hal yang diambil dari film ini:
1. Kedudukan wanita yang masih dianggap rendah dalam kehidupan masyarakat. Sehingga, kedudukan wanita harus dijunjung tinggi, baik oleh pria maupun oleh wanita sendiri.
2. Wanita yang mengadu dan meratapi masalah hidupnya kepada tuhan.
3. Pohon yang menjadi dunia dalam kehidupan memiliki nilai yang penting.
4. Pertunjukan drama tari Calon Arang. Tokoh Calon Arang digambarkan memiliki mata bulat besar dengan lidah menjulur panjang yang menakutkan

Posted in Uncategorized | No Comments »

Metafora dalam Arsitektur

April 27th, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

Metafora memiliki arti sebagai hubungan yang terjadi antara dua benda atau lebih yang bersifat abstrak dan dapat mengidentifikasi pola hubungan tersebut secara sejajar. Metafora menjadi suatu konsep rancangan arsitektur yang yang memberikan keleluasaan imajinasi bagi arsitek dalam perancangan arsitektur.

Menurut Anthony C. Antoniades (1990) dalam Poetic of Architecture: Theory of Design, mengidentifikasi metafora arsitektur ke dalam tiga kelompok, yaitu:
a. Metafora abstrak (intangible metaphor)
Rancangan arsitektur yang mengacu kepada hal-hal yang bersifat abstrak dan tidak dapat dibendakan, misalnya: sosial, budaya, kondisi manusia. Rancangan arsitektur yang menggunakan metafora ini adalah Nagoya City Art Museum karya Kisho Kurokawa yang membawa unsur sejarah dan budaya didalamnya.
Photobucket

b. Metafora konkrit (tangible metaphor)
Rancangan arsitektur yang mengacu kepada benda-benda nyata dan dapat dirasakan secara visual. Rancangan yang menggunakan metafora ini adalah Stasiun TGV karya Calatrava yang menerjemahkan bentuk burung terbang kedalam bangunan.
Photobucket

c. Metafora kombinasi (combined metaphor)
Rancangan arsitektur yang memiliki metafora abstrak dan konkrit didalamnya. Rancangan arsitektur yang menggunakan metafora ini adalah EX Plaza Indonesia karya Budiman Hendropurnomo yang menjadikan gaya kinetik pada sebuah mobil sebagai konsepnya, yang diterjemahkan menjadi gubahan masa lima kotak yang miring sebagai ekspresi gaya kinetik mobil, kolom-kolom penyangganya sebagai ban mobil.
Photobucket

Metafora Gender dalam Arsitektur
Arsitektur dapat menjadi suatu media komunikasi massal, pesan-pesan yang disampaikan ini juga banyak menyampaikan masalah sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu masalah sosial yang diangkat dalam arsitektur yaitu gender. Selain makhluk hidup biasa, arsitektur juga terbagi atas dua gender, yaitu gender pria dan wanita .
A. Gender Pria
Gender ini diwakili oleh bangunan berbentuk kotak-kotak, yang memiliki kesan solid, kuat, dan kaku.

Gambar House X (Peter Eisenman) Mewakili Gender Pria
Photobucket

B. Gender Wanita
Gender ini diwakili oleh bangunan berbentuk kurva atau lengkung, yang memiliki kesan dinamis, indah, dan eksotis.

Gambar Court For Madrid (Zaha Hadid) Mewakili Gender Wanita
Photobucket

Psikologi, ideologi, cara pandang, dan cara mencari solusi oleh arsitek dapat memberi banyak pengaruh kepada bentuk rancangan arsitektur.

Posted in Tugas Akhir | No Comments »

FILM sebagai MEDIA KOMUNIKASI dalam ARSITEKTUR

March 26th, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

Media komunikasi maksudnya adalah bagaimana menciptakan hubungan yang baik kepada publik/masyarakat, hal ini berkaitan erat dengan dampak yang diterima oleh masyarakat dengan kehadiran rancangan ini. Film futuristik merupakan arkeologi masa depan, maksudnya adalah film - film yang berlatar masa depan memberikan suatu cerminan akan perkembangan dunia arsitektur di masa yang akan datang. Sehingga dalam rancangan ini ingin memberikan nuansa arsitektur futuristik yang terinspirasi dari film, namun tetap ada kesan dan ikon dari budaya Bali. 

Menurut Evans, Powell & Talbot (1982), perancang (arsitek) adalah agen perubahan dan perancang harus memikirkan dampak jangka panjang rancangannya pada kehidupan manusia. Juga dikatakan bahwa desain dalam konteks sosial hendaknya bukan hanya suatu ungkapan diri, seyogyanya melayani masyarakat. Dengan demikian, hakekat desain harus diubah  ke arah plural view (interdiciplinary approach). 

Menurut Victor Papanek (1984), perancang menghadapi dilema etikal yakni antara profit dan tanggung jawab sosial, sedangkan desain & desainer harus memiliki kontribusi dalam kehidupan nyata manusia dan sosial. Hal itu menunjukkan bahwa peran perancang (arsitek) berada di dalam ketegangan diantara dua kutub, yakni kutub ideal dan kutub kehidupan nyata.

 

FUTURISTIK

Arsitektur bangunan masa depan lebih menggabungkan unsur seni, ilmu pengetahun, kerajinan dan teknologi.

Arsitektur Futuristik atau futurisme dimulai pada awal abad ke 20 dengan bentuk bangunan yang ditandai oleh anti -historicism dan garis panjang mendatar, kecepatan, emosi dan urgensi yang artistik. Gaya ini dimulai di negara Italia dan berlangsung pada tahun 1909 sampai 1944. Gaya ini dihidupkan oleh penyair itu Filippo Tommaso Marinetti, dan dia bekerja pada tokoh arsitektur terkemuka seperti arsitek Antonio Sant’Elia dan seniman Umberto Boccioni, Giacomo Balla, Fortunato Depero, Enrico Prampolini. Pendukung bangunan futuristik menyarankan kecepatan, teori pengaruh energi dan ekpresi yang kuat, di dalam usahanya untuk membuat zaman arsitektur yang modern. 

 

Setelah permulaannya, futurisme telah menjadi suatu kata yang lebih umum untuk mengangkat kecenderungan yang luas dalam disain modern yang sangat ingin menciptakan arsitektur dengan gaya masa depan ataupun sedikitnya gaya yang akan datang 10 tahun ke masa depan. Modern futuristik sebagian besar mulai dengan gaya desain pada mobil ataupun kereta pada tahun 1950 di California. Futurism adalah bukanlah suatu gaya tetapi suatu pendekatan terbuka ke arsitektur, dan telah ditafsirkan kembali oleh generasi arsitek yang berbeda dari beberapa dekade, tetapi pada umumnya ditandai dengan membentuk ketajaman, bentuk dinamis, kontras kuat dan penggunaan material yang berguna. Futurism merupakan era seni pertama abad ini yang menjadi ideology, tenaga, bakat dan mengubahnya untuk mencapai suatu tujuan dari pada memajukan seni artistik atau perseorangan. Gerakan futurism tidak melewati rentenan karya-karya seperti yang dilakukan gerakkan lain.


Gambar Perspektif dari La Citta Nuova oleh Sant’Elia, 1914

 

Stadium Nasional yang rancangannya sudah dilombakan sejak 2002 lalu, kini menempati posisi sebagai bangunan terpenting. Bangunan ini diprediksi akan menjadi salah satu bangunan yang penggarapannya selesai pada akhir 2007 ini. Menurut pemerintah China bangunan yang luasnya mencapai 258 ribu meter persegi ini akan menjadi tempat berlangusngnya olimpiade yang ke 29.

Model bangunan ini sangat tidak biasa dilihat. Dari jauh, kerangka dan bagian stadion terlihat sangat jelas. Pemenang rancangan tersebut adalah arsitektur perusahaan dari Swiss, Herzog de Meuron, dengan onsultasi dari ARUP dan para desainer arsitektur dan grup penelitian China.

Bagian muka, rangka dan sekaligus body bangunan adalah berupa komponen baja yang saling diikat satu sama lain. Sesuai dengan namanya yang mirip sarang burung, setiap rangka baja yang ditanam saling menopang satu sama lain dan saling diikat. Sementara diantara ruang yang ada akan diisi dengan bahan ETFE. Total jumlah kursinya mencapai 91 ribu buah. Tetapi nanti disaat kompetisi jumlah etrsebut hanya akan disi sebanyak 80 ribu.

 

 

IKONOGRAFI

1. Budaya Bali (Hindhu)

dalam suatu rancangan arsitektur, pemaknaan suatu lambang/ gambaran menjadi sangat penting, karena berkaitan erat dengan kondisi - kondisi yang menyertai rancangan arsitektur tersebut, baik itu nilai histori kawasan, budaya lokal, konsep rancangan, dll.

- Gender Problem 

Di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali, kedudukan perempuan masih berada di bawah kedudukan pria, perempuan dianggap hanya pekerja rumah tangga, sehingga terjadi ketimpangan gender.

Di dalam dunia arsitektur juga terjadi pembedaan gender, bangunan kotak - kotak mewakili gender pria, sedangkan kurva mewakili gender wanita.

Bangunan House X karya Peter Eisenman dengan desain kotak-kotak dan kaku, namun terlihat solid dan kuat, sangat mencerminkan arsitektur pria.

 

Bangunan Court for Madrid karya Zaha Hadid terlihat lebih dinamis, indah, banyak lengkungan dan eksotis, ini mencerminkan arsitektur wanita.

Bentuk dalam arsitektur sedikit banyak sangat dipengaruhi oleh psikologi, ideologi, dan cara pandang, dan cara mencari sebuah solusi oleh seorang arsitek.

Di dalam Akademi Film Denpasar ini ingin menghadirkan kedua gender arsitektur ini dengan kedudukan yang sama rata keduanya, dan dengan desain arsitektur kurva yang terlindungi desain kotak, memberikan arti bahwa kewajiban seorang pria untuk selalu melindungi wanita.

- Simbol Budaya

Menghadirkan simbol - simbol budaya Bali yang berupa pemaknaan atau bentuk yang sudah dimodifikasi didalamnya. 

 

 

 

Links :

http://furuhitho.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/8565/HANDSOUT+ruang.doc

http://www.ideaonline.co.id/article.php?name=/gender-dalam-arsitektur&channel=blog_idea_online

http://agusdd.wordpress.com/2007/08/16/arsitektur-masa-depan/

http://rurucoret.blogspot.com/2008/12/architecture-modern.html

http://nouveauholic.wordpress.com/category/aliran-seni/

Posted in Uncategorized | No Comments »

Inspirasi dalam Berarsitektur

March 23rd, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

Cukup sulit mencari bahan tentang Inspirasi dalam Berarsitektur, yang saya jumpai di internet hanya cerita2 motivasi diri, bahkan di Perpustakaan pun, setelah memasukkan keyword “INSPIRASI” ke mesin pencari buku perpustakaan, hasilnya BLANK, yang ada paling novel yang menginspirasi (Chicken Soup : Red). Susahnya hidup ini… 

Sehingga yang saya dapatkan hanya tulisan yang nyerempet - nyerempet saja dari judul di atas.

 

Roland Barthez (1977) menyatakan bahwa “Tidak ada karya manusia yang benar-benar asli, tiap karya akan selalu berulang. Yang ada adalah pencampuran dan penggabungan dari karya-karya yang telah ada.”

 

Jenis - Jenis Inspirasi :

Inspirasi Konsep. Inspirasi yang datang atas pemikiran, dan bertahun - tahun kemudian mengungkapkan kembali pemikiran tersebut dalam kata-kata sendiri sesuai dengan buah pemikiran mereka.

Inspirasi Parsial. Inspirasi yang datang beberapa bagian saja.

Inspirasi Okasional.  Inspirasi yang datang kadang - kadang saja, sehingga sisanya mereka bisa terpengaruh oleh buah pemikiran mereka sendiri.

Verbal Dictation.  Seorang penulis itu bagaikan “mesin tik”, artinya personalitas mereka tidak akan muncul dalam tulisan mereka. 

 

Bangunan Inspiratif :

Bangunan yang tak hanya sekedar kotak beton tanpa makna, sebagaimana gedung - gedung yang biasa dijumpai di kota - kota besar, khususnya di Jakarta. Bangunan diharapkan memberikan nuansa lain dalam beberapa hal, misalnya seni arsitektur yang mutakhir atau kekokohan dan keelokan gedung tinggi. Selain itu juga dengan dapat menyediakan open air yang lebih banyak, yang dapt digunakan sebagai cafe atau area santai lainnya.

 

Links :

http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=519:inspirasi&catid=51:supplement&Itemid=65

http://www.designmagz.com/teori/inspirasi-dalam-desain.html

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0506/03/rumah/1792083.htm

 

Posted in Uncategorized | No Comments »

Los Angeles Film School (The Best Film School’s Reference For Me)

March 21st, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

 

 

LAFS merupakan sebuah sekolah film yang berdiri di jantung Hollywood, USA. Dibuka pertama kali pada tahun 2000, sekolah film ini memiliki 3 jurusan, yakni : jurusan film, jurusan produksi permainan elektronik (game production), dan jurusan produksi animasi.

Sekolah film ini, dengan program study S1 namun kurikulum belajarnya mirip dengan The Next Academy (notabene saya juga), yakni semua bidang perfilman diajarkan seperti cinematography, directing, producing, creative writing, editing, sound design, lighting for film and video, production design, dll, tidak seperti IKJ yang jurusannya sudah terbagi - bagi sesuai bidang - bidang film tersebut.

Dibawah ini saya dapatkan foto ruang - ruang yang ada pada jurusan film LAFS :

1. Ruang kelas kecil

Ruang kelas yang tampak nyaman dan lebih fun karena konsep kursi duduk yang melingkar, kesan “unformal” dan bebas seorang sineas film terlihat di ruang ini. Ruang kelas dilengkapi oleh 50-inch plasma displays, 7.1 Dolby Digital Surround Sound, serta Sharp Video projector, menjadikan ruang kelas ini menjadi ruang yang “benar - benar film” secara fasilitas, namun desain dan warna tampak tidak berbeda dengan ruang kelas sekolah biasa, yang lebih mengecewakan terutama ruang tampak sempit terutama karena adanya ruang ruang tambahan dalam kelas dengan dinding tembok. 

 

2. Ruang Teater

Ruang yang digunakan untuk screening movie (pemutaran film) yang ditonton dengan seluruh mahasiswa, seminar film, bahkan fungsi - fungsi lainnya seperti halnya auditorium maupun aula. Memiliki jumlah total kursi audience sekitar 345 kursi, dengan suasana dan fasilitas yang tak kalah dengan bioskop 21.

 

3. Ruang Kelas Besar

Ruang kelas yang menampung mahasiswa lebih besar, yang digunakan untuk kuliah - kuliah umum yang nontechnical film (kalo di UII, kuliah Pancasila ma Kewarganegaraan kali yah??). Design ruang kelas ini lebih menarik daripada ruang kelas kecil, namun susunan kursi mahasiswa lebih formal.

 

4. Ruang Kelas (khusus Screening room)

Ruang kelas yang digunakan untuk belajar (belajar dari film yang ditonton), desain kelas setengah bioskop (facilities & lighting) setengah kelas (class chair), ruangan ini dapat menampung 80 siswa, dengan perlengkapan elektronik JVC DLA HD2K native 1020 x1080 Digital Cinema Projector, LD-HD2KBU Digital Video Processor, Denon AVR985SP AV Receiver, Denon DN-V300 Progressive Scan DVD player, JBL Theater Monitors.

 

5. Produksi Film Lab

Ruang untuk belajar syuting indoor, memiliki 4 ruang sejenis, namun dengan besaran yang berbeda - beda.

 

6. Video Editing Lab

Ruang yang digunakan siswa untuk belajar video editing dan mengerjakan tugas, dengan fasilitas yang super komplit. Pola melingkar meja & kursi seperti ini sangat cocok untuk belajar video editing, karena dapat memudahkan instruktur untuk mengecek yang dikerjakan siswa.

 

7. Animasi Film Lab

Ruang belajar animasi dengan suasana sangat cozy, dinding kaca berada tepat di depan posisi duduk siswa, dan disisi lainnya merupakan dinding beton, sehingga menjadikan siswa fokus untuk melihat ke depan ketika dosen memberi kuliah, serta memberi suasana teduh dan tak kaku.

 

8. Audio Editing Lab

Ruang belajar editing audio, dengan fasilitas , Digidesign Pro Tools|HD Workstations, Sony LMD 14″ LCD Client Monitors, Sony DSR-1500A DVCAM Deck, Digidesign Command 8 Digital Mixer, Avid Media Station V10, Digidesign SYNC I/O and ProTools 192 I/O, 42″ Sony FWD 42LX1/S LCD monitor

 

9. Dubbing Lab

Ruang untuk dubbing suara yang sudah sangat midern dan canggih ini. Dibelakang area peralatan dubbing merupakan tempat duduk siswa, sehingga siswa dapat belajar lebih dekat mengenai dubbing suara.

 

10. Production Design Lab

Ruang untuk belajar mendesain kostum, dekorasi, dan semua yang termsuk dalam bidang artistik. 

 

11. Producer & Meeting Room

Ruang untuk belajar menjadi produser dan komplit dengan ruang rapat.

 

12. Ruang Mesin

Ruang penyimpanan data komputer sekolah

 

13. Student Lounge

Kesannya kurang rileks, karena dinding full melingkari ruang kantin ini, kurang area terbuka hijau.

 

14. Ruang Penyimpanan (gudang)

Ruang untuk menyimpan peralatan film, baik itu yang rusak maupun yang baru. Siswa juga diijinkan untuk meminjam peralatan film ini.

 

Kesimpulannya : Sekolah film yang menarik untuk dijadikan contoh, bagaimana kombinasi antara kelengkapan ruang, fasilitas, maupun desain ruang yang disesuaikan dengan fungsi didalamnya. Meskipun ada beberapa ruang yang nampak tidak nyaman, namun overall its really awesome… 

 

 

Link :

http://www.lafilm.edu/

Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Relation of Architecture and Film… part 2

March 20th, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

Keterkaitan antara film dan arsitektur memiliki hubungan yang erat, namun diantara hubungan keduanya itu kurang terjadi simbiosis mutualisme. Selama ini arsitektur hanya dianggap sebagai backdrop (latar) dari film, padahal peran arsitektur sangat penting (peran film lebih besar dari arsitektur), sehingga yang menjadi masalah disini adalah bagaimana menjadikan arsitektur dapat merangkul film untuk mendapatkan hasil sebuah rancangan yang baik.

Relasi antara Film dan Arsitektur :

1. Film dan arsitektur sebagai media :

Berbagai isu (realitas sosial, politik, ekonomi maupun budaya) menjadikan film dan arsitektur sebagai sebuah media untuk ‘berkembang-biak’ melalui proses berkomunikasi. Dalam konteks memposisikan arsitektur sebagai ranah pijakan amatan , posisi film bagi arsitektur merupakan sebuah wilayah potensial dalam artian baik sebagai media inpirasional arsitektur maupun sebagi media komunikasi (termasuk propaganda) bagi arsitektur.

 

2. Film sebagai wilayah untuk inovasi model arsitektur

Menempatkan arsitektur jauh berada di masa depan dari arsitektur saat ini, ini menjadi sangat menarik karena film dapat menjadi sebagai bayangan/prediksi akan perkembangan arsitektur di masa depan.

 

Jenis - jenis Inovasi sendiri dapat di bagi menjadi 6, yaitu :

a. Product Innovation : inovasi terhadap keluaran dari sebuah organisasi dalam bentuk produk yang bisa dilihat atau layanan yang bisa dinikmati. contoh : teknologi ipod, HSDPA, wifi, dll

b. Process Innovation : inovasi yang dilakukan terhadap proses yang menghasilkan keluaran organisasi. 

c. Radical Innovation : inovasi yang “gila”, tergolong baru dan beda dari yang lain, namun hal ini bersifat relatif. Kodak memproduksi kamera digital, yang sebelumnya memproduksi kamera manual/kimiawi. Sering disebut Discontinue.

d. Incremental Innovation : inovasi sebuah produk yang berbeda sedikit saja dengan produk yang sudah ada sekarang. contoh : Sony memproduksi kamera digital, namun sudah lama bergelut di dunia digital dan video. sering juga disebut Continue

e. Disruptive Innovation : memiliki arsitektur sistem yang berbeda jauh dari sebelumnya, walau komponen yang dipakai (mungkin) tidak berbeda jauh. Kinerjanya pada awal diperkenalkan lebih rendah dari produk sebelumnya (produk rival), namun kemudian menyalip/mendekati kinerja produk rival tersebut. contoh : kehadiran PDA setelah notebook.

f. Sustaining Innovation : inovasi yang secara arsitektur tidak terlalu jauh berbeda dari produk sebelumnya, perubahan yang terjadi hanya beberapa komponen saja yang berada didalamnya.

 

Sebuah inovasi tidak mutlak tergolong dalam 1 jenis inovasi, bisa saja tergolong dalam beberapa jenis diatas. Selain itu, inovasi bersifat relatif, termasuk juga dalam daerah/negara yang berbeda, di satu negara produk tersebut tergolong biasa, sedangkan di negara lain tergolong inovasi baru.

 

Saya lebih cenderung ke film dan arsitektur sebagai media, terutama pada variabel film sebagai media inspirational bagi arsitektur, sangat cocok untuk rancangan saya…

Links :

http://egonserv.blog.friendster.com/2007/07/arsitektur-film/

http://www.itpin.com/blog/index.php?paged=2&s=komponen

Posted in Uncategorized | No Comments »

Reference : Film’s Concept On Building

March 18th, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

UFA Cinema Center
Dresden, Germany

Modernisme dengan dominasi rasionalitasnya dianggap membatasi arsitek dalam menjelajahi kemungkinan bentuk-bentuk baru dalam bahasa arsitektur. Oleh karena itu, Coop Himmelb(l)au berusaha mengeksplorasi dan mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam “bahasa arsitektural”. Coop Himmelb(l)au berusaha menciptakan perubahan mendasar pada arsitektur, urbanisme, struktur, dan tektonik. Dapat dikatakan Coop Himmelb(l)au berusaha mencari ”arsitektur yang merdeka”.

Walaupun cara-cara pemikiran dari geometri beserta dengan aturan atau kaidah yang ada di dalamnya bersifat mengikat, namun hasilnya pada akhirnya akan membawa kita ke dalam suatu kebebasan bentuk dan ekspresi, yaitu dunia arsitektur yang merdeka. Karena yang kita rasakan adalah form dan experience dalam bentuk ruang 3 dimensional dan waktu (space and time).

Coop Himmelb(l)au pada sebuah fungsi pusat kegiatan sinema di Dresden Jerman. Design ini mencoba mengambil konsepsi film sebagai jendela untuk menatap dunia yang diajukan oleh Andre Bazin- seorang kritisi film Perancis. Melalui konsep inilah yang diterapkan pada seluruh fasade bangunan dalam artian definisi dinding dikaburkan (ambigu) melalui penggunaan bahan transparan. Selain itu konsep lain yang diajukan adalah bangunan berfungsi sebagai medium bukan dalam artian memproduksi medium atau film melainkan sebagaimana layaknya juga film sebagai media.

Desain yang dicirikan oleh dua unit gedung intricately, yakni:
- The Cinema Block, dengan delapan bioskop dan tempat duduk untuk 2600
- Crystal, gelas tempurung yang sekaligus berfungsi sebagai lobi dan publik persegi.

More Images

 

Technical data:

Site Area: 1.846,5 m2
Floor Area: 6.174 m2
Built-up Area: 1.522 m2
Cubage: 53.725 m3
Competition: 1993
Start of Planning: 2/1996
Start of Construction: 3/1997
Completion: 3/1998

 

Architect:

Merupakan duo solid Wolf D. Prix & Helmut Swiczinsky yang tergabung dalam firma COOP HIMMELB(L)AU, sebuah firma arsitek yang berlokasi dari Vienna, Austria.

 

Links :

http://www.arcspace.com/architects/coop_himelblau/ufa/

http://www.arsitektur.net/2007-1-1/widyanto_geometri.html

http://www.coop-himmelblau.at/

http://www.heldermann-verlag.de/jgg/jgg01_05/jgg0418.pdf

Posted in Tugas Akhir | 1 Comment »

Relation of Architecture and Film… part 1

March 18th, 2009 by ZAKARIA EFFENDI

Mengapa Antara Film dan Arsitektur

Hubungan film terhadap arsitektur adalah sebagai media representasi, peletak batasan terhadap fungsi dan peryataan kehadiran tubuh individu dalam ruang arsitektur . Pada kenyataannya relasi arsitektur dan film lebih banyak memunculkan arsitektur sebagai latar (setting) film ynag berkaitan dengan latar utama (plot) waktu atau bahkan seringkali memunculkan tokoh arsitek sebagai latar dari konflik utama.

Teori tentang relasi antara film dan arsitektur adalah :
Lissitzky (1925), dia adalah seorang tokoh suprematisme dalam arsitektur modern Rusia. Tesis Lissitzky ini merupakan pembacaan lebih jauh terhadap ruang yang dilakukan oleh avant garde Russia (konstruktivisme) seperti Tatlin, Melnokov dan Malevich.

Pembagian estetika ruang persepsi kedalam 4 bagian yaitu ;
- ruang planimetrik (dua dimensional)
- ruang perspektif satu titik (tiga dimensional)
- ‘ruang – waktu’ irrasional (ruang empat dimensional)
- ruang imajiner (ruang dalam media lain/buatan seperti film atau animasi arsitektural)

Dan Menurut Lissitzky, persepsi kita terhadap ruang arsitektur adalah sintesis dari keempat fenomena ini dengan suatu metode atau pendekatan tertentu.

Sejauh apa dan bagaimana peran dan makna film yang bisa dibaca dan dipahami (atau bahkan memberikan cerapan dan gagasan) dalam proses berarsitektur secara keseluruhan. Posisi film sebagai realitas pertama dilihat sebagai ranah dimana kontribusi untuk arsitektur dalam artian kontribusi bangunan sinematografik - mulai dari plot dan skenario hingga gaya bersikap (diction) maupun cakupan, kompleksitas atau panorama – bisa diterapkan dalam keseharian proses berarsitektur.

Film dan Arsitektur sebagai media

Kelebihan film dan arsitektur yakni merupakan produk seni yang yang memiliki posisi dalam kebudayaan manusia. Kelebihan potensi tersebut telah membawa berbagai isu (realitas sosial, politik, ekonomi maupun budaya itu sendiri) untuk menjadikan film dan arsitektur sebagai sebuah media untuk ‘berkembang-biak’ melalui proses berkomunikasi. Peran arsitektur maupun film dalam mengubah wajah dunia cenderung senafas dan seirama. Karena itu sangatlah beralasan bila kita melihat relasi-relasi yang terdapat pada keduanya, termasuk pemaknaan masing-masing diantaranya. Posisi film sendiri bagi arsitektur yaitu sebagai media inpirasional arsitektur maupun sebagi media komunikasi (termasuk propaganda) bagi arsitektur. Sehingga peran maupun pemaknaan film terhadap arsitektur menjadi penting dalam melihat dan mencermati visi arsitektur untuk keberlangsungan serta keberadaannya.

Film sebagai wilayah untuk inovasi model arsitektur

Sejauh ini yang dimaksud oleh peran arsitektur dalam film, diartikan sebagai latar dekoratif dari berbagai adegan ataupun peran arsitektur sebagai wadah bagi individu maupun sebagai penguat latar waktu. Artinya arsitektur berperan dalam film sebagai penguat dari apa yang direpresentasikan oleh film sekaligus menguatkan penuturan film. Kondisi ini menempatkan arsitektur jauh ke masa depan maupun ke masa lalu, dan menempatkan arsitektur seiring dengan sejarah umum serta sejarah arsitektur sendiri. Tetapi apa yang sudah ada menjadikan pandangan mengenai sesuatu yang baru atau yang belum ada menjadi lebih menarik minat, apalagi bila kita mengkaitkannya dalam konteks mencermati perkembangan arsitektur selanjutnya.

Dalam film Fifth Element (1996), yang disutradarai oleh sineas Perancis, Luc Besson, latar arsitekturnya bertema futuristik. New York di masa depan digambarkan sebagai sebuah kawasan urban yang semua kehidupan penduduk kotanya sudah jarang menginjak tanah dan transportasi didominasi oleh sistem pesawat terbang kecil. Yang menarik adalah penggambaran mengenai unit apartemen supir taksi (diperankan Bruce Willis) sebagai sebuah unit kecil yang kompak, seukuran kira-kira dua belas meter persegi namun mampu menampung semua kegiatan atau fungsi rumah, layaknya kamar kost mahasiswa pada abad 23.
Penggambaran ini bisa juga dibaca dalam perspektif teoritis arsitektur sebagai sebuah bentuk fenomenologi dalam arsitektur, dimana bila dicermati pada berbagai adegan di film tersebut, semua aktifitas mampu diwadahi oleh ruang sebesar itu tanpa kita bisa mendefinisikan atau menginterpretasikan fungsi utama dari ruang tersebut.

Film sebagai ruang imajiner tempat sekumpulan peristiwa -arsitektur sebagai peristiwa- (relasi antara ruang, tempat dan tubuh)

Pemaknaan film terhadap arsitektur lebih kepada pencermatan terhadap makna-makna ideologi maupun muatan filosofis dari sebuah film yang bisa digali untuk proses berarsitektur. Bangunan ideologis memberikan kesempatan lebih luas kepada arsitektur untuk menggali ide/gagasan utama yang muncul dari film. Proses seperti ini bisa mengambil berbagai pendekatan baik itu secara analogis maupun metaforis, salah satu contohnya yakni Le Corbusier lewat La Tourette yang mencoba menganalogikan sebuah komposisi musik dari Iannis Xenakis seorang komposer dari Yunani.

Dead Poets Society (1989) film karya Peter Weir dan dibintangi oleh Robin William . William disini berperan sebagai John Keating seorang guru sastra di sekolah pra-universitas ternama. Melalui pendekatan-pendeketan yang dekonstruktif John Keating mencoba menggali sekaligus mengajarkan kebebasan dalam hidup dan bertindak bagi para siswanya melalui kelas sastra. Yang menarik adalah ketika dalam proses pengajarannya yang aneh Keating tidak selalu terikat dengan ruang arsitektur melainkan dengan ruang-ruang di luar arsitektur. Peter Weir menggambarkan ketidaksukaan akan kuasa (birokrasi serta aristokrasi sekolah) melalui adegan pembelajaran sastra (puisi) di sebuah ceruk gua pada malam hari dengan diterangi lilin dari pada sebuah ruang kelas (sebagai ikon lembaga dan arsitektur sekolah) yang terpenuhi fasilitasnya tetapi mengekang kebebasan.

Arsitektur Sebagai Realitas dan Pencerminan Peradaban Manusia

Pencermatan terhadap makna film bagi arsitektur adalah sebagai media representasi mikro dalam kerangka makro pencerminan peradaban. Arsitektur yang direpresentasikan dalam film pada intinya merepresentasikan arsitektur sebagai mana realitas arsitektur itu sendiri pada kenyataannya sesuai dengan konsep dari film itu sendiri, meskipun pada dasarnya keberadaan arsitektur maupun ruang dari sebuah film merupakan sebuah upaya atau proses imajinasi. Tetapi justru melalui media film-lah kita mencoba membuat arsitektur menjadi sebuah bentuk kenyataan yang mencoba merepresentasikan segala sesuatu termasuk peradaban pada sebuah posisi memandang ke depan. Seperti diketahui, barometer kondisi umum budaya dan peradaban salah satunya adalah melalui arsitektur yang (katanya) selalu mencoba untuk jujur, dalam artian jujur mengenai relasi-relasi dari aspek peradaban yang terjadi pada suatu waktu.

Links :

http://egonserv.blog.friendster.com/2007/07/arsitektur-film/

Posted in Uncategorized | No Comments »

« Previous Entries